![]() |
| Gapura Masuk Tangga Seribu |
TS atau lebih dikenal sebagai tangga seribu. Begitu nama yang diberikan
oleh anak-anak muda di sini. Ya nggak seribu lah jumlahnya. Mungkin
karena saking banyaknya tangga yang ada, so dinamakan tangga seribu.
Entah kapan dibuatnya. Dua tahun yang lalu, tempat ini masih sepi. Tahun
2014 ketika saya singgah sebentar di sini, belum banyak pengunjungnya.
Oh ya, perlu diketahui bahwa gambar gapura di atas sebenarnya adalah
pintu masuk menuju pemakaman kuno, yaitu makam Eyang Cokrokusumo.
Mengenai sejarah keberadaannya, hampir tidak ada orang yang
mengetahuinya. Para sesepuh desa itu juga tidak bisa menjelaskannya
secara gamblang. Dan alasan mengapa dibuat tulisan menggunakan huruf
jawa seperti tampak pada gambar, padahal kalau dibaca itu bunyinya
"Padepokan Hyang Agung Wisnu Petir", apa hubungannya dengan makam, tidak
banyak orang tahu. Makam tersebut ditemukan sekitar tahun 1500-an.
Karena banyaknya peziarah yang datang, kemudian dibangun jalan masuk
agar orang lebih mudah untuk mengenalinya. Pada awalnya hanya para
peziarah saja yang berkunjung ke sini.
![]() |
| Makam Eyang Cokro |
Untuk dapat sampai menuju makam harus berjalan menaiki begitu banyak
anak tangga. Di bawah tangga naik telah disediakan tempat wudhu bagi
para peziarah. Mungkin akan capek bila belum terbiasa naik. Jadi
sesekali bisa berhenti untuk istirahat sekaligus mengambil napas. Karena
tangganya akan terus menaiki atas bukit. Ketika hampir mendekati makam,
jalan berganti dengan cor rata tapi tetap menanjak. Ketika sampai
tanjakan batu besar, jalan berganti dengan paving.
![]() |
| Tangga naik |
Gambar di atas adalah tangga naik pada pijakan pertama. sudah tampak di sebelah kanan kiri adalah bebatuan gunung. Setelah naik pada ketinggian sekitar 50 meter, bisa beristirahat pada tempat yang agak datar sambil duduk-duduk. Dengan melihat ke atas, di sini telah dipasang petunjuk arah. Bila berjalan ke arah kiri maka akan menuruni lereng bebatuan. di situ sudah ada petunjuk-petunjuk arah menuju lokasi tertentu.
![]() |
| Petunjuk Lokasi |
Tempat ini masih sangat alami meskipun letaknya di antara pemukiman
penduduk. Bahkan lahan di sekitar gapura dan tangga naik inipun masih
lahan milik pribadi. Jadi belum masuk wilayah perhutani. Tempat ini
masih dalam deretan pegunungan Walikukun. Dinamakan pegunungan Walikukun
mungkin karena di pegunungan ini banyak di temukan pohon walikukun.
Penduduk sekitar sini mayoritas pekerjaannya adalah pengusaha batu koral dan pengrajin alat-alat rumah tangga dari batu, seperti: lemper, uleg-uleg, lumpang, dsb. Di samping itu mereka juga bekerja sebagai peternak dan petani. Setiap hari baik laki-laki maupun perempuan banyak yang mencari rumput sampai atas perbukitan, naik turun menyusuri lereng bebatuan. Di atas bukit juga banyak ditanami rumput dan palawija.
Sekarang tempat ini cukup ramai dikunjungi terutama di hari libur. Mulai dari anak-anak kecil, anak-anak sekolah/pramuka sampai orang tua. Ada yang sekedar ingin jalan-jalan melihat pemandangan, ada yang ingin berziarah, dan ada pula yang datang untuk keperluan olah raga. Di atas sudah tampak ada yang berjualan meskipun belum permanen. Kalau lapar, di bawah tepatnya di utara jalan ada resto kampung air dan kolam pemancingan.
Yang lebih menarik lagi, tangga ini bila naik ke atas terus akan menuju Candi Dadi yaitu candi yang di tengah-tengahnya terdapat sumuran loh. Gak percaya, segera meluncur saja ke sini. Lokasinya ada di atas bukit, dan untuk sampai ke sana mesti jalan kaki sekitar satu jam. Bila diselingi istirahat ya lebih lama sedikit lah. Tapi gak rugi, karena pemandangannya oke banget. Pingin ke sini kan? Silahkan. Tapi siapkan dulu fisik, harus sehat walafiat ya, trus bekal, dan sebaiknya pilih waktu pagi hari biar lebih enjoy, udara masih segar, plus kicau burung masih cit cit cuit. Di tengah perjalanan, kita bisa mendengar ada suara air terjun di seberang lereng yang tertutup tebing. Sepertinya alirannya cukup deras, namun saya belum melihatnya secara langsung. Mungkin lain waktu akan mencoba mendatangi arah suara air terjun tersebut.
Penduduk sekitar sini mayoritas pekerjaannya adalah pengusaha batu koral dan pengrajin alat-alat rumah tangga dari batu, seperti: lemper, uleg-uleg, lumpang, dsb. Di samping itu mereka juga bekerja sebagai peternak dan petani. Setiap hari baik laki-laki maupun perempuan banyak yang mencari rumput sampai atas perbukitan, naik turun menyusuri lereng bebatuan. Di atas bukit juga banyak ditanami rumput dan palawija.
Sekarang tempat ini cukup ramai dikunjungi terutama di hari libur. Mulai dari anak-anak kecil, anak-anak sekolah/pramuka sampai orang tua. Ada yang sekedar ingin jalan-jalan melihat pemandangan, ada yang ingin berziarah, dan ada pula yang datang untuk keperluan olah raga. Di atas sudah tampak ada yang berjualan meskipun belum permanen. Kalau lapar, di bawah tepatnya di utara jalan ada resto kampung air dan kolam pemancingan.
Yang lebih menarik lagi, tangga ini bila naik ke atas terus akan menuju Candi Dadi yaitu candi yang di tengah-tengahnya terdapat sumuran loh. Gak percaya, segera meluncur saja ke sini. Lokasinya ada di atas bukit, dan untuk sampai ke sana mesti jalan kaki sekitar satu jam. Bila diselingi istirahat ya lebih lama sedikit lah. Tapi gak rugi, karena pemandangannya oke banget. Pingin ke sini kan? Silahkan. Tapi siapkan dulu fisik, harus sehat walafiat ya, trus bekal, dan sebaiknya pilih waktu pagi hari biar lebih enjoy, udara masih segar, plus kicau burung masih cit cit cuit. Di tengah perjalanan, kita bisa mendengar ada suara air terjun di seberang lereng yang tertutup tebing. Sepertinya alirannya cukup deras, namun saya belum melihatnya secara langsung. Mungkin lain waktu akan mencoba mendatangi arah suara air terjun tersebut.
![]() |
| Pemandangan di ketinggian 250 m dpl |
Oke, segera meluncur ke sini ya. Di desa Wajak Kidul kecamatan Boyolangu kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Nih, saya kasih rute yang gampang.
Dari titik nol km (alun-alun) Tulungagung, ke selatan sejauh 10 an
kilometer. Sampai perempatan lampu merah pasar Boyolangu, lalu belok ke
kiri 3 km. Jalan terus nggak usah belok. Sampai perempatan kantor Balai
Desa Sanggrahan, kurangi kecepatan, jalannya agak pelan. Jarak 300 meter
lihat di kanan jalan ada gapura dengan tulisan huruf jawa. Nah, itu
dia. Sudah sampai.
Saya ucapkan selamat berkunjung dan naik-naik sampai atas. Ketika sudah sampai sini, sempatkan juga singgah di Goa Pasir dan Pathok Candi Dadi.![]() |
| Candi Dadi |
![]() |
| Petunjuk ke air terjun Hersen |






